“ Runtuhkan Sombongmu “
Oleh :
Prie Panggie
PERINTAH Kaisar Agustius, agar semua orang diseluruh dunia
mendaftarkan diri, membuat orang berbondong-bondong menuju ke Betlehem
di Yudea, dari berbagai kota. Begitu pula Yusuf, ia bersama Maria tunangannya,
yang oleh kuasa Allah sedang mengandung,
pergi dari kota Nazaret menuju ke
tempat asal nenek moyangnya,
Daud.
“ Maria sayang, di depan itu ada
warung makan. Yuk, kita makan dulu?” ajak Yusuf.
“ Tapi aku belum lapar. Bagaimana
kalau nanti saja,” ujar Maria lirih sambil mengelus perutnya yang nampak sudah
besar. Memang, bayi yang dikandungnya sesekali bergerak-gerak. Tapi dengan
belaian ini, bayi itu biasanya menjadi tenang dan tidak meronta lagi.
“ Benar, belum lapar?”
“ Iya. Nanti kalau lapar, aku
bilang.”
“ Baiklah. Mari kita lanjutkan
perjalanan. Betlehem sudah tidak jauh lagi.”
*
KETIKA rembang petang merenggut kekuasaan siang,
maka Betlehem pun mulai temaram. Siang berganti sore. Dan sore pun beranjak ke
malam. Hari kian gelap.
Perjalanan ini sesungguhnya
merupakan beban berat bagi Maria. Kandungannya yang sudah besar, membuat jalannya
terlihat agak terseok. Meski
dalam keadaan yang kurang nyaman, tapi Yusuf dan
Maria sesekali masih sempat bergurau. Sungguh, keharmonisan mereka begitu
kental.
“ Nah, kita sudah sampai. Di depan
itu ada penginapan. Yuk, ke sana,” ucap Yusuf.
Selang beberapa saat, mereka masuk ke penginapan.
“ Ada yang bisa saya bantu, pak?”
sapa petugas penginapan ramah.
“ Kami butuh satu kamar,” jawab Yusuf.
“ Ohh, maaf sekali pak. Semua kamar
sudah penuh. Silahkan cari penginapan yang lain saja. Maaf ya.”
*
PENGINAPAN kedua yang mereka datangi
juga penuh. Dan kini menuju ke penginapan ketiga.
“ Selamat malam, pak.” sapa Yusuf.
“ Hehg,” jawab petugas penginapan
dengan dengusan. Ia nampak sibuk menghitung uang pendapatan hari ini.
“ Malam, pak,” ulang Yusuf.
Mungkin merasa terganggu, ia
mendongak sambil matanya melotot. “Ada apa?” ujarnya sengit.
“ Kami butuh satu kam . . . . “
“ Wahh, jangankan satu kamar,” tukas
petugas yang hanya memandang sebelah mata pada Yusuf. Lanjutnya, “Sepotong saja sudah tidak ada.
Semua sudah penuh sejak beberapa hari lalu. Sampai pusing aku dibuatnya.”
“Oh ya, di mana lagi ya pak, yang
ada penginapan?”
“ Mau apa? Hehg, rasanya sih
percuma! Pasti semua penginapan sudah penuh sesak. Tapi kalo mau mencoba, di
sana, di ujung jalan ini, belok ke kiri. Nah, kira-kira seratus meter dari situ
ada penginapan kecil. Ya, kecil dan sangat sederhana. Coba saja ke sana,”
katanya dengan nada meremehkan. Lantas petugas yang
sombong ini kembali menghitung uangnya, banyak memang.
*
YUSUF dan Maria belum mendapat
tempat. Karena kelelahannya mereka meneduh di sebuah kandang. Kandang kecil,
kumuh, kotor dan bau. Tubuh mungil Maria nampak menggeletar, menggigil. Udara
musim salju menerpa. Rasa dingin tak hanya menggigit kulit, tapi menghunjam
sampai ke tulang-belulang.
Dan tiba-tiba... perut Maria
melilit, sakit! Selang beberapa waktu, ohh . . . . Bayi Kudus lahir. Dalam
sebuah kandang sederhana dan juga jorok. Andai,
petugas penginapan yang sombong itu memberikan kamar pribadinya, tentu Yesus
tak akan lahir di kandang kumuh. Tapi itulah rencana Yang Maha Kasih. Demi
kedegilan manusia, Ia rela menderita. Ia tak menolak dijadikan tumbal dunia.
Menjembatani hubungan Allah dan manusia yang sudah hancur oleh dosa. Bahkan
hingga mati pun Dia rela mereguk tuntas isi cawan berupa siksa dan derita. Di
palang kayu salib Yesus .
Lantas, kini, jika jadi petugas atau
apapun jabatan kita, sebaiknya runtuhkan kesombongan yang ada. Agar tidak
mengulang penderitaan sesama. Membuat derita bagi sesame artinya membuat pula
derita Tuhan. Amin.
(Salam
Natal : Lies, Yane, XC & Gwynnet)
***
Please.... jika berkenan beri comment. Thx.
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDelete