Friday, January 18, 2013

Pujilah Tuhan dengan Talentamu


“ Pujilah Tuhan Dengan Talentamu “
Oleh : Prie Panggie


berdasar : pkj. 153



Pengabnya ruang berjeruji besi tanpa jendela
sempitnya gerak dalam ruang penjara
membuat pemuda bernama Dentaka Duniawi
menyesali diri atas perilakunya

Sebuah kasus pembunuhan membuatnya dihukum
dan vonis hakim jatuh, penjara seumur hidup,
maka nanti ketika ia keluar bui tentu sudah menjelang tua
itu berarti masa mudanya hilang sia-sia di penjara

Ahh, kasihan Dentaka Duniawi
pemuda gagah nan rupawan . . . .

Tapi tunggu,
apakah kita, baik yang muda dan yang tua, tidak seperti Dentaka Duniawi?
Apakah hidup kita benar-benar tidak dalam penjara?
Tentu penjara dalam bentuk lain,
yaitu kesenangan dan kemewahan duniawi
yang bisa membelenggu kita dalam dosa
seperti : percabulan, hawa nafsu, sihir, perseteruan, roh pemecah,
                kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya

Nahhh,
agar tidak terjerumus dalam penjara Dentaka Duniawi
maka, ingatlah akan penciptamu
pergunakan waktumu dengan baik
persembahkan talentamu
dan yang pasti, pujilah tuhan, pakailah seluruh hidupmu








Lewa, Jakarta, 18 Juli 2010

Monday, January 14, 2013

Puisi Kolaborasi


Puisi Kolaborasi Oleh : Tazkira, Nyzriel El Habibi dan Prie Panggie

Berjudul : ISI HATI RAKYAT, Maaf sang Koruptor dan Koruptor yang galak



                                                                        ---- instrument lagu bongkar : Iwan Fals

Dulu negeri ini makmur
Dulu negeri ini sejahtera
Entah kenapa, negeri ini perlahan runtuh
Runtuh oleh tikus yang menggerogoti tubuh

Kalian yang terus lapar akan uang
Kalian yang terus haus akan kekuasaan
Dimana letak hati nurani kalian
Melihat rakyat yang kian lama kian sengsara

Jangan kalian kira dengan uang harammu kau dapat membeli semuanya
Jangan kalian kira dengan uang harammu kau dapat membeli surga

                                                                                                ------- s e l a - instrument ----          

Negara ini bebas bung! Negara demokrasi!
Demokrasi katamu, itu hanya teori bung
Emang sih dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.
memang kami di pilih oleh rakyat
maka ini lah saat nya rakyat membantu kami
Kami perjuangkan aspirasi rakyat, maka salah kah,
kami mengambil upah dari perjuangan itu ?
Duduk manis sambil merokok, rapat, rapat dan rapat
itu lah yang engkau lakukan untuk rakyat
benar, maka tiada salah nya kami berlibur sejenak ke pulai Bali atau
bahkan ke Dominika, juga ke Cartagena
menghamburkan uang rakyat yang trilyunan

Ingat bung! di dunia kau boleh jadi konglomerat
Tapi diakhirat kau bisa sekarat !

                                                                                                -------- sela ----- instrumen ---

Hehehe seorang pengamen di atas patas tujuh belas
dengan suara serak tapi terdengar antusias
syairnya tersusun begitu lugas
ia berdendang di antara udara pengab dan panas :

Hai engkau sang koruptor . . . . .
Kalo melihat duit sangat galak
hati-hati sebab engkau bisa mati mendadak
dan akan dipikul di atas pundak
kemudian dimasukkan ke liang lahat berbentuk kotak
ditimbun tanah tanpa kuasa menolak
tragisnya tukang pacul pun menginjak-injak
seolah tiada harga karena pupusnya congkak

Hai sang koruptor . . . .
sadar dan kembalilah ke jalan yang benar
sebab Tuhan begitu manis dan lembut
menunggu kedatanganmu . . . . Amin.


--** --



Prie Panggie, Lewa, Jakarta, 18 Juli 2010

Puisi Kolaborasi


Puisi Kolaborasi Oleh : Tazkira, Nyzriel El Habibi dan Prie Panggie

Berjudul : ISI HATI RAKYAT, Maaf sang Koruptor dan Koruptor yang galak



                                                                        ---- instrument lagu bongkar : Iwan Fals

Dulu negeri ini makmur
Dulu negeri ini sejahtera
Entah kenapa, negeri ini perlahan runtuh
Runtuh oleh tikus yang menggerogoti tubuh

Kalian yang terus lapar akan uang
Kalian yang terus haus akan kekuasaan
Dimana letak hati nurani kalian
Melihat rakyat yang kian lama kian sengsara

Jangan kalian kira dengan uang harammu kau dapat membeli semuanya
Jangan kalian kira dengan uang harammu kau dapat membeli surge

                                                                                                ------- s e l a - instrument ----          

Negara ini bebas bung! Negara demokrasi!
Demokrasi katamu, itu hanya teori bung
Emang sih dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.
memang kami di pilih oleh rakyat
maka ini lah saat nya rakyat membantu kami
Kami perjuangkan aspirasi rakyat, maka salah kah,
kami mengambil upah dari perjuangan itu ?
Duduk manis sambil merokok, rapat, rapat dan rapat
itu lah yang engkau lakukan untuk rakyat
benar, maka tiada salah nya kami berlibur sejenak ke pulai Bali atau
bahkan ke Dominika, juga ke Cartagena
menghamburkan uang rakyat yang trilyunan

Ingat bung! di dunia kau boleh jadi konglomerat
Tapi diakhirat kau bisa sekarat !

                                                                                                -------- sela ----- instrumen ---

Hehehe seorang pengamen di atas patas tujuh belas
dengan suara serak tapi terdengar antusias
syairnya tersusun begitu lugas
ia berdendang di antara udara pengab dan panas :

Hai engkau sang koruptor . . . . .
Kalo melihat duit sangat galak
hati-hati sebab engkau bisa mati mendadak
dan akan dipikul di atas pundak
kemudian dimasukkan ke liang lahat berbentuk kotak
ditimbun tanah tanpa kuasa menolak
tragisnya tukang pacul pun menginjak-injak
seolah tiada harga karena pupusnya congkak

Hai sang koruptor . . . .
sadar dan kembalilah ke jalan yang benar
sebab Tuhan begitu manis dan lembut
menunggu kedatanganmu . . . . Amin.


--** --



Prie Panggie, Lewa, Jakarta, 18 Juli 2010

Monday, January 7, 2013


“ Kasih-Nya yang begitu besar bagi manusia “




Renungan singkat.

Bacaan : IBRANI 10: 24


Nats : Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik (Ibrani 10:24)

Kasih Allah yang sedemikian besar bagi kita tak bisa dibandingkan dengan apa pun. Peristiwa penyaliban, kematian, dan kebangkitan Kristus adalah titik puncak di mana Allah dengan kuasa-Nya menunjukkan kasih-Nya yang begitu besar bagi manusia.

Kini, ketika kita kembali mengenang dan memperingati peristiwa itu, mari kita lebih mendekatkan diri kepada-Nya dan merenungkan kasih-Nya itu. Sudahkah kita mengerti mengapa Ia rela melakukan semuanya itu? Sudahkan kita berusaha membalas kasih-Nya itu? Dan sudahkah kita mengasihi Dia dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi kita? Itulah beberapa pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh masing-masing kita. Tapi satu hal yang pasti, Kasih Tuhan Yesus yang begitu mahal dan penuh derita, telah Ia bayar lunas, untuk membebaskan kita dari dosa.

Belakangan ini di beberapa daerah terjadi fenomena ulat bulu. Tentu seekor ulat bulu tidak akan mungkin bisa melahirkan fenomena. Tapi ketika mereka berjumlah ribuan bahkan jutaan, maka setiap rindangnya pepohonan pun dalam sekejap akan digundulinya. Ulat bulu dan belalang mempunyai kesamaan.

Ilustrasi kita kali ini bukan ulat bulu, melainkan tentang belalang (sesuai dengan yang tertulis dalam Kitab Amsal). Seekor belalang tentu hanya seekor binatang kecil yang biasa-biasa saja, sama juga dengan seekor ulat bulu. Bahkan seringkali, seekor belalang dijadikan makanan burung. Tapi ketika bergabung dengan belalang-belalang lain, sekawanan belalang yang berjmlah besar itu, akan segera melahap semua tanaman yang mereka lewati.

Belalang menunjukkan kekuatan kerja sama. Apa yang tidak dapat mereka lakukan sendiri, dapat diselesaikan bersama- sama. Dalam kitab Amsal di Perjanjian Lama, Agur, seorang yang berhikmat berkata, "Belalang yang tidak mempunyai raja, namun semuanya berbaris dengan teratur" (dalam Amsal 30:27).
Kita dapat memetik pelajaran dari makhluk kecil ini. Para pengikut Kristus yang bekerja dan berdoa bersama-sama akan dapat membuat kemajuan yang jauh lebih besar bagi Dia daripada jika masing-masing berusaha sendiri-sendiri. Pada saat orang-orang kristiani bersatu untuk melayani Tuhan, mereka dapat menjadi kekuatan yang luar biasa bagi Allah dalam memenuhi kehendak-Nya bagi gereja.

(Ibrani 10:24,25).
Marilah kita bersukacita dan ikut serta dalam membangun kekuatan dan persekutuan dalam satu tubuh Kristus. Gereja yang efektif akan mengikuti keteladanan yang ditunjukkan oleh binatang-binatang kecil tadi yaitu ulat bulu, belalang dan bahkan semut, yakni mereka akan menjadi begitu dahsyat kala bekerja sama dalam sebuah kesatuan.  Kita, manusia  yang mendapatkan pengampunan dan ditebus oleh Tuhan Yesus, yang telah dipersatukan dalam Roh Kudus, tentu : DENGAN BEKERJA SAMA, KITA DAPAT MELAKUKAN LEBIH BANYAK DARIPADA YANG DAPAT KITA KERJAKAN SENDIRI, DALAM PEKERJAAN TUHAN YANG MENJADI TUGAS KITA SEBAGAI PENATUA.

Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik (Ibrani 10:24)

Selamat melayani, Tuhan Yesus memberkati kita. Amin.

BERDOA :



Pnt. Priyo H. Paringgusti (Prie Panggie)
1 Mei 2011

Sunday, January 6, 2013

Runtuhkan Sombongmu


“ Runtuhkan Sombongmu “
Oleh : Prie Panggie





PERINTAH Kaisar Agustius, agar semua orang diseluruh dunia mendaftarkan diri,  membuat  orang berbondong-bondong menuju ke Betlehem di Yudea, dari berbagai kota. Begitu pula Yusuf, ia bersama Maria tunangannya, yang oleh kuasa  Allah sedang mengandung, pergi dari kota Nazaret menuju ke  tempat  asal nenek moyangnya, Daud.                             
            “ Maria sayang, di depan itu ada warung makan. Yuk, kita makan dulu?” ajak Yusuf.
            “ Tapi aku belum lapar. Bagaimana kalau nanti saja,” ujar Maria lirih sambil mengelus perutnya yang nampak sudah besar. Memang, bayi yang dikandungnya sesekali bergerak-gerak. Tapi dengan belaian ini, bayi itu biasanya menjadi tenang dan tidak meronta lagi.
            “ Benar, belum lapar?”
            “ Iya. Nanti kalau lapar, aku bilang.”
            “ Baiklah. Mari kita lanjutkan perjalanan. Betlehem sudah tidak jauh lagi.”

                                                                        * 

            KETIKA  rembang petang merenggut kekuasaan siang, maka Betlehem pun mulai temaram. Siang berganti sore. Dan sore pun beranjak ke malam. Hari kian gelap.
            Perjalanan ini sesungguhnya merupakan beban berat bagi Maria. Kandungannya yang sudah besar, membuat  jalannya  terlihat agak  terseok. Meski dalam keadaan yang kurang nyaman, tapi Yusuf             dan Maria sesekali masih sempat bergurau. Sungguh, keharmonisan mereka begitu kental.
            “ Nah, kita sudah sampai. Di depan itu ada penginapan. Yuk, ke sana,” ucap Yusuf.
Selang beberapa saat, mereka masuk ke penginapan.
            “ Ada yang bisa saya bantu, pak?” sapa petugas penginapan ramah.
            “ Kami butuh satu kamar,”  jawab Yusuf.
            “ Ohh, maaf sekali pak. Semua kamar sudah penuh. Silahkan cari penginapan yang lain saja. Maaf ya.”

*

            PENGINAPAN kedua yang mereka datangi juga penuh. Dan kini menuju ke penginapan ketiga.
            “ Selamat malam, pak.” sapa Yusuf.
            “ Hehg,” jawab petugas penginapan dengan dengusan. Ia nampak sibuk menghitung uang pendapatan hari ini.
            “ Malam, pak,” ulang Yusuf.
            Mungkin merasa terganggu, ia mendongak sambil matanya melotot. “Ada apa?” ujarnya sengit.
            “ Kami butuh satu kam . . . . “
            “ Wahh, jangankan satu kamar,” tukas petugas yang hanya memandang sebelah mata pada Yusuf.  Lanjutnya, “Sepotong saja sudah tidak ada. Semua sudah penuh sejak beberapa hari lalu. Sampai pusing aku dibuatnya.”
            “Oh ya, di mana lagi ya pak, yang ada penginapan?”
            “ Mau apa? Hehg, rasanya sih percuma! Pasti semua penginapan sudah penuh sesak. Tapi kalo mau mencoba, di sana, di ujung jalan ini, belok ke kiri. Nah, kira-kira seratus meter dari situ ada penginapan kecil. Ya, kecil dan sangat sederhana. Coba saja ke sana,” katanya dengan nada meremehkan. Lantas petugas yang sombong ini kembali menghitung uangnya, banyak memang.

*

            YUSUF dan Maria belum mendapat tempat. Karena kelelahannya mereka meneduh di sebuah kandang. Kandang kecil, kumuh, kotor dan bau. Tubuh mungil Maria nampak menggeletar, menggigil. Udara musim salju menerpa. Rasa dingin tak hanya menggigit kulit, tapi menghunjam sampai ke tulang-belulang.                  
            Dan tiba-tiba... perut Maria melilit, sakit! Selang beberapa waktu, ohh . . . . Bayi Kudus lahir. Dalam sebuah kandang sederhana dan juga jorok. Andai, petugas penginapan yang sombong itu memberikan kamar pribadinya, tentu Yesus tak akan lahir di kandang kumuh. Tapi itulah rencana Yang Maha Kasih. Demi kedegilan manusia, Ia rela menderita. Ia tak menolak dijadikan tumbal dunia. Menjembatani hubungan Allah dan manusia yang sudah hancur oleh dosa. Bahkan hingga mati pun Dia rela mereguk tuntas isi cawan berupa siksa dan derita. Di palang kayu salib Yesus .
            Lantas, kini, jika jadi petugas atau apapun jabatan kita, sebaiknya runtuhkan kesombongan yang ada. Agar tidak mengulang penderitaan sesama. Membuat derita bagi sesame artinya membuat pula derita Tuhan. Amin.
(Salam Natal : Lies, Yane, XC & Gwynnet)

                                                                        ***