Monday, December 31, 2012

Keluarga Tersenyum


“ Keluarga Tersenyum “

Oleh : Prie Panggie


Tokoh             : Pak Wan
                          Ibu Ning
                          Bu Eny
  Pak RT
           
Setting           : Ruang tamu. Sederhana. Ada 4 kursi plastik.

Sound                        : Intro, lembut mengiringi.

Announcer    : Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus . . . Dengan segenap kerendahan hati, Panitia PASKAH / NATAL  mempersembahkan sebuah drama singkat dengan judul :

“ KELUARGA TERSENYUM ”

Awal kisah, dimulai dari sebuah keluarga. Keluarga pak Wan. Istrinya bernama Bu Ning. Mereka mempunyai seorang anak putri, Nani namanya. (PAK WAN MASUK PENTAS SAMBIL MENGELUS PIPINYA)
Pak Wan sedang sakit gigi. Ia nampak kesakitan. Bu Ning Nampak berjalan lemas, sambil ngedumel. Sepertinya ia baru datang dari pergi. Habis cari utangan dan tidak dapatkan uang. Mukanya nampak kesal.

Bu Ning         : Dari dulu kan sudah kubilang. Jangan diterusin, jangan diterusin! Tapi dia  tetap ngotot. Bapak sih, bukannya melarang, malah mendukung dan bersikeras agar diterusin aja. Nah, sekarang kita juga kan yang tertimpa tangga!

Pak Wan        : Bu, ada apa. Kok datang-datang langsung ngedumel nggak jelas gitu. Ada apa to? Kamu tau nggak, nih, gigiku rasanya kayak ditusuk-tusuk, sakit sekali. (MERENGEK, SAMBIL MENGELUS-ELUS PIPI KARENA GIGINYA SAKIT) Rasanya senuuutt, sennnuuut. Aduh bu, sakit banget gigiku. Carikan obat dong. Tolong bu, mbok dibelikan obat di warung sebelah itu.

Bu Ning         : Ooh gigimu sakit lagi to. Makanya, pergi ke Puskesmas. Cabut gigi yang sudah rusak itu. Ohya, beli obat? Mana duitnya? (Sambil menadangkan tangan)

Pak Wan        : (Diam. Menunduk)

Bu Ning         : Mana? Mana uangnya, aku belikan obat? Mana ? (MENDESAK)

Pak Wan        : (Menggeleng lemah) Nggak punya . . . .

Bu Ning         : Nggak punya ? Rasakno ! Sekarang terasa, kan? Untuk beli obat warung aja nggak bisa. Makanya, dulu aku bilang apa? Si Nani, nggak usah meneruskan kuliah. Kuliah itu butuh duit banyak. Tapi waktu itu bapak bilang apa … (MIMIK MELEDEK, NGELEWEKIN) Biar, biar aja Nani kuliah. Soal bayaran, soal uang, urusannya gimana nanti aja. Dan . . . .

Pak Wan        : (MEMOTONG DAN AGAK SOMBONG) Buuu, Nani itu anak pintar, anak cerdas. Sayang kan, kalo nggak nerusin kuliah. Anak itu otaknya encer. Dia mewarisi otakku. Ya, kan bu? Otaknya benar-benar sama dengan otakku, otak encer . . . .

Bu Ning         : Iya, saking uueenceerrrnya, tuh, sampai netes-netes (KESAL, SAMBIL SEOLAH MENGELAP BAWAH TELINGA SUAMINYA).  Ahh, sudahlah pak. Bapak tau kan, hampir setiap tanggal muda dan waktunya semesteran, aku bingung cari utangan. Dari semester 1 sampai semester 5 ini, kepalaku rasanya mau pecah, mikirin kebutuhan Nani, cari duit. (MULAI TERDENGAR ISAK TANGIS) Orang se-RT ini, sudah hafal. Kalo aku mengunjungi mereka, sudah bisa ditebak mau apa? Pasti cari utangan. Pinjam uang.  Malu, aku mallluuuuu paaakk! (TANGISNYA MELEDAK).

Pak Wan        : (PAK WAN TERDIAM. BARU SESAAT KEMUDIAN) Sabar . . . sing sabar yo bu. Minggu depan atau bulan depan, mudah-mudahan  proyek ‘Mengais Mega-ku’ berhasil. Ini proyek besar lho. Duitnya pasti buuaanyaakk. Lha wong mega proyek jee. Nah, tentu kita akan punya uang banyak. Iya to bu. Kamu pasti seneng. Banyak berdoa bu, biar proyekku meledak . . . .

Bu Ning         : (MEMOTONG ) Duuaaarrrr . . . ! Begitu kan, meledaknya! Huhh, Seneng apanya? Senep yang pasti. Proyek, proyek, proyek dan proyek terus. Mana kenyataannya? Proyek dari dulu ga pernah ada hasilnya gitu. Mana hasilnya, yang katamu Proyek Mengais Mega itu? Mana ? Ahh, pak….aku, aku benar…. Aku benar-benar nggak kuat pak (MENANGIS)… huhuhu . . . . Aku nggak tau lagi, bagaimana nasib kuliahnya Nani . . . .  huhuhu . . . .(MENANGIS SEDIH)

Music             : ( MENGALUN MUSIK SEDIH, INSTRUMEN BIOLA LEBIH BAIK)              
Pak Wan        : ( BEBERAPA SAAT DIAM, SEDIH. LALU MENENANGKAN ISTRINYA DENGAN MEMEGANGI PUNDAKNYA) Bu, sing sabar yoo bu. Besok aku akan mencari pekerjaan yang menghasilkan uang. Aku berjanji . . . .

(BEBERAPA SAAT KEMUDIAN PINTU DIKETUK. ADA TAMU. PAK WAN MEMBUKA PINTU DAN MEMPERSILAHKAN MASUK)

Pak Wan        : Silahkan masuk. (MASUK BU ENY, PENGURUS KOMISI BEA SISWA GEREJA) Oo bu Eny. Silahkan duduk bu . . . .

Bu Eny           : Bagaimana kabarnya pak? Sepertinya…. (MENUNJUK KOYOK YANG MENMPEL DI  PIPI PAK WAN. MEREKA PUN DUDUK)

Pak Wan        : Iya bu, gigi saya kumat.

Bu Eny           : Begini, bapak dan ibu. Kedatangan saya ke mari, sehubungan dengan Komisi Bea Siswa Gereja. Setelah diusulkan, maka Nani, termasuk mahasiswi yang mendapatkan bea siswa. Minggu lalu uang semester sudah bisa diambil. Tapi Nani kok tidak datang ya pak?

Pak Wan        : Minggu lalu? Ohya, waktu itu dia ke kampus, berangkatnya pagi-pagi benar,  katanya ada Persekutuan Doa Kampus dan acara apa gitu?. Pulangnya pun sampai larut malam.

Bu Eny           : Oo begitu. Ini bu, uang semester Nani. (MENGAMBIL AMPLOP DARI TAS DAN DIBERIKAN KE BU NING) Mulai saat ini, uang semesteran Nani akan ditanggung oleh Komisi Bea Siswa Gereja sampai dia lulus menjadi sarjana.

Bu Ning         : Terima kasih, terima kasih bu….(SAMBIL MENERIMA AMPLOP)  

Pak RW         : Permisi . . . . (BERSAMAAN ITU MASUK PAK RW)

Pak Wan        : Oh pak RW. Silahkan pak, silahkan duduk . . . .

Pak RW         : Oo ada bu Eny . . . . (KE ARAH BU ENY) . . . Tumben bu?

Bu Eny           : Iya pak, ada perlu sama Nani. Saya diutus Komisi Bea Siswa Gereja untuk menyampaikan uang semesteran untuk Nani.

Pak RW         : Lho kok sama ya. Saya juga diutus warga untuk menyampaikan ini (MENGELUARKAN AMPLOP DARI SAKU) . . . Pengurus Warga se-RW dalam rapat kemarin memutuskan, ada beberapa anak-anak muda dan remaja yang mendapatkan bea siswa. Yaitu mereka yang aktif di Karang Taruna dan berprestasi dalam pendidikan. Nani ini, termasuk anak muda yang aktif. Kami juga tahu, Index Prestasi belajarnya selalu hampir mencapai 4.  Jadi, Nani berhak menerima bea siswa. Meskipun jumlahnya tidak seberapa, tapi kalau buat transport dan jajan, yahhh cukuplah. Ini bu Ning, mohon diterima . . . (MEMBERIKAN AMPLOP)

Music             : ( LEMBUT – SENDU )

Bu Ning         : Terima kasih pak RW atas bantuannya, terima kasih sekali. (ALIH, WAJAH MENENGADAH) Ohh Tuhan, terima kasih atas berkat yang telah Dikau karuniakan kepada kami. Terima kasih Tuhan.
(ALIH KE PAK WAN) Pak, lihat …. Ini bukan proyek Mengais Mega, seperti proyekmu itu. Ini kenyataan, Tuhan memberikan jalan terbaik bagi kita. Makanya, mulai Minggu depan, Bapak harus rajin ke gereja. Jangan males-malesan. Berbakti itu yang sungguh-sungguh. Kita wajib mengucap syukur kepada Tuhan Yesus, yaitu dengan cara bekerja di ladangNya. Dalam masa PASKAH/NATAL seperti ini, bapak harus giat membantu Panitia.

Bu Eny           : Ibu benar pak. Panitia tentu membutuhkan tenaga dan khususnya, talenta bapak. Yaitu bernyanyi. Paduan Suara Gabungan di gereja, sangat kekurangan suara laki-laki. Bapak kan pandai nyanyi? 

Pak Wan        : (ANTUSIAS) Benar, benar bu Eny. Coba dengarkan…. (LANTAS MENYANYI LAGU PASKAH/NATAL. TAPI BARU DUA BARIS DI STOP BU NING)

Bu Ning         : Sudah pak, cukup. Jangan diteruskan. Nanti dalam perayaan, baru deh nyanyi yang bagus.

Bu Eny           : Sekarang saya pamit dulu ya bu.

Bu Ning         : Ya, ya. Sekali lagi terima kasih ya bu Eny.

Pak RW         : Saya juga mau pamit pak Wan.

Pak Wan        : Terima kasih pak RW.  (SENYUM PAK WAN SUMRINGAH)

MUSIC           : ( LAGU CERIA )

Announcer    : Demikianlah drama singkat denga judul : Keluarga Tersenyum. Melalui Komisi Bea Siswa Gereja dan Pengurus RW, biaya kuliah Nani terpenuhi. Konon, Nani nantinya, akan lulus dengan predikat cumlaude! 
(MERAKA BERSALAMAN, LALU BERDIRI BERJAJAR MENGHADAP PENONTON)
Keluarga pak Wan, sekarang Nampak sumringah, tersenyum ceria. Sebab Tuhan telah memenuhi janjiNya, mengulurkan berkat-Nya bagi mereka yang berkekurangan. Selamat Paskah / Natal dan Tahun Baru . . . . Amin.
                        ( PARA PEMAIN YG BERJAJAR, MENGANGGUK KOMPAK)

Musik             : ( CLOSSING – CERIA )

                                                                        *****

Lewa, jakarta, 17 oktober 2012, 11.12 wib

1 comment: