Sunday, January 6, 2013

Runtuhkan Sombongmu


“ Runtuhkan Sombongmu “
Oleh : Prie Panggie





PERINTAH Kaisar Agustius, agar semua orang diseluruh dunia mendaftarkan diri,  membuat  orang berbondong-bondong menuju ke Betlehem di Yudea, dari berbagai kota. Begitu pula Yusuf, ia bersama Maria tunangannya, yang oleh kuasa  Allah sedang mengandung, pergi dari kota Nazaret menuju ke  tempat  asal nenek moyangnya, Daud.                             
            “ Maria sayang, di depan itu ada warung makan. Yuk, kita makan dulu?” ajak Yusuf.
            “ Tapi aku belum lapar. Bagaimana kalau nanti saja,” ujar Maria lirih sambil mengelus perutnya yang nampak sudah besar. Memang, bayi yang dikandungnya sesekali bergerak-gerak. Tapi dengan belaian ini, bayi itu biasanya menjadi tenang dan tidak meronta lagi.
            “ Benar, belum lapar?”
            “ Iya. Nanti kalau lapar, aku bilang.”
            “ Baiklah. Mari kita lanjutkan perjalanan. Betlehem sudah tidak jauh lagi.”

                                                                        * 

            KETIKA  rembang petang merenggut kekuasaan siang, maka Betlehem pun mulai temaram. Siang berganti sore. Dan sore pun beranjak ke malam. Hari kian gelap.
            Perjalanan ini sesungguhnya merupakan beban berat bagi Maria. Kandungannya yang sudah besar, membuat  jalannya  terlihat agak  terseok. Meski dalam keadaan yang kurang nyaman, tapi Yusuf             dan Maria sesekali masih sempat bergurau. Sungguh, keharmonisan mereka begitu kental.
            “ Nah, kita sudah sampai. Di depan itu ada penginapan. Yuk, ke sana,” ucap Yusuf.
Selang beberapa saat, mereka masuk ke penginapan.
            “ Ada yang bisa saya bantu, pak?” sapa petugas penginapan ramah.
            “ Kami butuh satu kamar,”  jawab Yusuf.
            “ Ohh, maaf sekali pak. Semua kamar sudah penuh. Silahkan cari penginapan yang lain saja. Maaf ya.”

*

            PENGINAPAN kedua yang mereka datangi juga penuh. Dan kini menuju ke penginapan ketiga.
            “ Selamat malam, pak.” sapa Yusuf.
            “ Hehg,” jawab petugas penginapan dengan dengusan. Ia nampak sibuk menghitung uang pendapatan hari ini.
            “ Malam, pak,” ulang Yusuf.
            Mungkin merasa terganggu, ia mendongak sambil matanya melotot. “Ada apa?” ujarnya sengit.
            “ Kami butuh satu kam . . . . “
            “ Wahh, jangankan satu kamar,” tukas petugas yang hanya memandang sebelah mata pada Yusuf.  Lanjutnya, “Sepotong saja sudah tidak ada. Semua sudah penuh sejak beberapa hari lalu. Sampai pusing aku dibuatnya.”
            “Oh ya, di mana lagi ya pak, yang ada penginapan?”
            “ Mau apa? Hehg, rasanya sih percuma! Pasti semua penginapan sudah penuh sesak. Tapi kalo mau mencoba, di sana, di ujung jalan ini, belok ke kiri. Nah, kira-kira seratus meter dari situ ada penginapan kecil. Ya, kecil dan sangat sederhana. Coba saja ke sana,” katanya dengan nada meremehkan. Lantas petugas yang sombong ini kembali menghitung uangnya, banyak memang.

*

            YUSUF dan Maria belum mendapat tempat. Karena kelelahannya mereka meneduh di sebuah kandang. Kandang kecil, kumuh, kotor dan bau. Tubuh mungil Maria nampak menggeletar, menggigil. Udara musim salju menerpa. Rasa dingin tak hanya menggigit kulit, tapi menghunjam sampai ke tulang-belulang.                  
            Dan tiba-tiba... perut Maria melilit, sakit! Selang beberapa waktu, ohh . . . . Bayi Kudus lahir. Dalam sebuah kandang sederhana dan juga jorok. Andai, petugas penginapan yang sombong itu memberikan kamar pribadinya, tentu Yesus tak akan lahir di kandang kumuh. Tapi itulah rencana Yang Maha Kasih. Demi kedegilan manusia, Ia rela menderita. Ia tak menolak dijadikan tumbal dunia. Menjembatani hubungan Allah dan manusia yang sudah hancur oleh dosa. Bahkan hingga mati pun Dia rela mereguk tuntas isi cawan berupa siksa dan derita. Di palang kayu salib Yesus .
            Lantas, kini, jika jadi petugas atau apapun jabatan kita, sebaiknya runtuhkan kesombongan yang ada. Agar tidak mengulang penderitaan sesama. Membuat derita bagi sesame artinya membuat pula derita Tuhan. Amin.
(Salam Natal : Lies, Yane, XC & Gwynnet)

                                                                        ***        

2 comments: